Gus Im: Sang Guru Pergerakan

Oleh: Rizal Abdillah

PK Hasyim Asy’ari Tebuireng

KH. Hasyim Wahid atau kerap disapa Gus Im ini adalah adik bontot dari Gus Dur dan Gus Sholah. Untuk biografi lengkapnya, kalian bisa cari di Google. Tapi, jujur saya pribadi baru mengetahui sosok Gus Im itu ketika beliau wafat. Ya karena, banyak teman-teman dan sahabat-sahabat saya ramai-ramai membuat status atas wafatnya beliau. Nah, dari situlah saya mulai penasaran dan bertanya-tanya, siapa sih sosok Gus Im itu?

Dan syukur alhamdulilah, Tuhan mendengar pertanyaan dalam hati saya. Tuhan menjawabnya melalui perantara diskusi yang diadakan sahabat-sahabat PC PMII Jombang. Sudah dua kali Pengurus Cabang melakukan diskusi pemikiran Gus Im, tentunya dengan mengkaji beberapa tulisan beliau. Dan yang menarik lagi, Gus Im juga dikenal sebagai mentor gerakan para aktivis muda NU.

Sedikit bercerita sebelum masuk ke pembahasan, saat berdiskusi tentang pemikiran Gus Im di Rumah Pergerakan, terlihat jelas kerutan-kerutan di dahi sahabat-sahabat saya, yang di mana kerutan di dahi itu menandakan betapa kerasnya otak mereka untuk mencerna alur pemikiran Gus Im. Sebenarnya kerutan di dahi itu bisa menandakan dua hal; Pertama, kerutan di dahi itu bisa menandakan keseriusan berpikir, entah karena sebelumnya otak tidak pernah digunakan untuk mikir atau otak itu belum pernah digunakan berpikir serius, jadi perlu adaptasi. Kedua, kerutan di dahi itu menandakan bahwa para sahabat-sahabat sudah mulai tua.

Peta Geopolitik

Ok, mari kita lanjut ke pembahasan, tulisan ini hanya membahas satu tulisan Gus Im yang berjudul, “Indonesia dan Geopolitik Tripolar”. Dari tulisan tersebut, saya mulai menyadari bahwa beliau ini memang seorang pemikir ulung. Bagaimana tidak? Prolog atau latar belakang tulisan tersebut cukup panjang, ditambah inti pembahasan dan prolog sama berat bobot isinya. Mungkin itulah salah satu yang membedakan antara seorang pemikir sejati dan pemalas sejati.

Dalam tulisan awal, Gus Im menjelaskan; Peninggalan kolonialisme yang paling merusak psikohistori masyarakat dunia ketiga (non-blok) adalah perasaan bawah sadar yang meyakini bahwa barat adalah superior, sementara selain barat adalah subordinat. Sedikit penjelasan, Indonesia ini salah satu negara dunia ketiga. Karena saat itu Indonesia tidak memihak antara dunia pertama/blok barat (Amerika) dan dunia kedua/blok timur (Uni Soviet). Kira-kira begitu.

Lebih lanjut beliau menjelaskan; Peta geopolitik itu akan terus berubah sejalan dengan perubahan aliansi, daya saing, dan kecerdikan para pemimpinnya. Nah, dipoin ini cukup menarik, Gus Im menyatakan; Para pemimpin di negara dunia ketiga itu masih terpengaruh bahwa “Barat adalah yang terbaik dan sisanya harus mengikuti” (Ronaldo Munck, 1999:201), terlebih para elit politik negeri ini. Dipembahasan ini, jujur saya agak berpikir keras, karena apa? Saya mencoba merefleksikan apa yang ditulis Gus Im dengan realitas yang saya temukan.

Di pembahasan selanjutnya terkait sejarah, Gus Im memaparkan bahwa; Hancurnya tembok Berlin (1989) dan runtuhnya Uni Soviet (1991) telah menciptakan dampak psikopolitik yang cukup besar, sehingga citra sistem ekonomi kapitalis barat dan sistem politik demokrasi liberal semakin populer dan menjadi rujukan banyak bangsa.

Sedikit saya ingin menyoroti tentang runtuhnya Uni Soviet. Pasca Perang Dunia II, Amerika dan Uni Soviet menjadi negara adidaya. Amerika dengan Kapitalismenya dan Uni Soviet dengan Komunismenya. Akhirnya pada tahun 1947, dua negara adidaya tersebut berperang hingga tahun 1991. Dan runtuhlah Uni Soviet beserta komunismenya.

Provokasi Fukuyama dan Huntington

Sebelumnya saya beri tahu dahulu, dalam pembahasan ini saya hanya mengutip poin-poin provokasinya saja, jadi saya tidak akan menjelaskan panjang x lebar x tinggi.

Pertama, Provokasi Francis Fukuyama bahwa kapitalisme-liberalisme adalah akhir sejarah (the end of history), benar-benar telah menghancurkan pandangan dunia dan cara berpikir masyarakat Dunia Ketiga sampai pada tingkat yang memprihatinkan.

Kedua, Francis Fukuyama, juru bicara Barat yang sangat fasih, menyebut peristiwa itu sebagai akhir sejarah: yaitu demokrasi liberal + pasar bebas  sebagai sistem paling teruji dan sebagai puncak pencapaian peradaban manusia. Para pemimpin politik dan pemerintahan di seluruh permukaan bumi, tak terkecuali yang otoriter, dipaksa untuk menerapkan sistem ekonomi pasar dan politik demokrasi liberal (Francis Fukuyama, 1992: 45).

Ketiga, Fukuyama secara provokatif juga menyatakan bahwa “There does seem to be something about Islam, or at least the fundamentalist versions of Islam that have been dominant in recent years, that makes Muslim societies particularly resistant to modernity”. Menurut Fukuyama, karakteristik utama modernitas adalah demokrasi liberal dan kapitalisme pasar bebas.

Keempat, Samuel Huntington dalam  The Clash of Civilizations and the Remaking of the World Order (1996) menyebutkan karena Al Quran menolak pembedaan agama dengan otoritas politik, peradaban Islam tidak dapat hidup berdampingan dengan demokrasi.

Kelima, Huntington juga menyatakan bahwa terjadi pergesaran geopolitik dan kemunculan benturan antar peradaban (clash of civilization). Arti penting wilayah geografis dalam konflik internasional semakin berkurang. Negara tidak lagi dicirikan oleh wilayah tetapi dicirikan oleh peradaban.

Keenam, Konflik yang  terjadi  dalam  politik  internasional,  menurut  Huntington,  bukan  lagi  konflik memperebutkan wilayah jajahan dalam usaha untuk memperbesar wilayah negara tetapi merupakan konflik memperebutkan daerah pengaruh dalam rangka memperluas peradaban mereka.

Share your thoughts