Kartu Ajaib. Buruh Senang. Buruh pun Riang?

Oleh : Anggit Puji Widodo

Lets come to the focus discuss.

Hari ini, tepat tanggal 1 Mei 2020 adalah hari ulang tahunnya para buruh. Atau yang biasa kita lihat di status media sosial anak muda nan organisatoris labil ialah “May Day”. Biasanya hari buruh selalu diwarnai dengan kebahagiaan dan perayaan. Ya, namanya hari buruh sudah seharusnya semarak dengan cara merayakan sepenuh hati. Seperti turun kejalan contohnya, demo di kantor dewan ataupun lainnya. Itulah perayaan hari ulang tahun buruh yang biasanya sering kita lihat bersama. 

Bagi kalian para pemuda atau aktivis, khususnya yang masih duduk di bangku kuliah, sudah jelasnya tidak asing dengan “May Day” atau Hari Buruh. Saya tidak perlu menjelaskan detail bagaimana sejarah hari buruh itu hadir. Alasannya sederhana karena kemampuan seorang aktivis, apalagi mahasiswa waduh, jangan diragukan, jangan diragukan (ragu).

Hari buruh biasa di rayakan para buruh dengan turun ke jalan atau menggelar aksi demonstrasi. Menuntut hak-hak buruh yang mungkin belum dipenuhi oleh perusahaan. Tak khayal, setiap datangnya tanggal 1 Mei akan banyak perusahaan kosong, karena buruhnya pindah kerja ke jalanan. Namun nampaknya, aktivitas itu tidak akan terjadi untuk hari buruh tahun ini. Mengapa? Ya, karena masih masa pendemi Covid 19. Berbagai Surat Edaran dari Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, Kades, mantan, tunangan, banyak lah. Hadir untuk setidaknya mengurangi aktivitas sosial di luar rumah. Meskipun kita sama-sama tahu, karakteristik masyarakat Indonesia itu seperti apa. Boleh keluar, asal di dalam. Ehem.

Hari buruh bukan hari biasa. Seperi lagunya Afgan, Bukan Cinta Biasa. Para ibu, maupun fans BTS atau yang terbaru fans Reemar, tidak akan paham apa itu hari buruh. Karena taunya cuma nari-nari depan kamera. Ya kalau gabut gak gitu juga. Banyak hal yang terjadi sebelum datangnya 1 Mei 2020, tepatnya hari ini. Dari Pemutusan Hak Karyawan (PHK) Massal yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, hingga munculnya sebuah Solusi dari para petinggi, untuk diberikannya kartu prakerja bagi para buruh ter-PHK. Hmmm.

Pernah saya baca-baca di beberapa portal media online, jumlah pekerja yang terimbas (PHK) karena wabah virus corona sudah mencapai lebih dari dua juta orang. Bayangin, dua juta orang. Hampir nyamain pasukan ninja Naruto saat perang Dunia Shinobi ke-4. Uwoow.

Dua juta orang tanpa pekerjaan, di tengah pandemi Covid 19. Kalau bagi pekerja yang masih bujang, mungkin masih bisa hidup dengan keluarga atau hidup sementara bersama teman sejawat, nah kalau yang udah berkeluarga? Bagaimana itu ceritanya. Bisa jadi ada perpecahan itu di dalam rumah tangganya. Tau ah ngeri.

Parahnya, di tengah situasi Covid 19 kok malah di-PHK-in itu para buruh, alasannya karena roda perputaran uang perusahaan tidak berjalan stabil. Agar bisa stabil ya harus numbalin sesuatu, dan buruh jadi tumbalnya. Hey para aktivis mahasisiwa keluarlah dari goa. Diem diem bae.

Selanjutnya, ketika sedang baca portal berita juga, Pemerintah Pusat mulai mengeluarkan jutsu-nya, semacam jurus kalau di anime. Di mana kartu prakerja bisa digunakan bagi karyawan yang ter-PHK. Hmm. Akhirnya, sekian purnama Cinta menunggu Rangga. Saya baru sadar ternyata manfaat kartu prakerja yang dimaksud Pak De akhirnya bisa bermanfaat. Hehe. Kartu Ajaib yang akan menolong berjuta-juta umat.

Kartu ajaib rakerja (katanya). Diperuntukkan bagi karyawan yang di-PHK dampak dari Covid 19, masa penggunaannya hanya sampai 30 hari. Kalau udah habis masa pakainya ya daftar lagi, sudah seperti mengisi ulang pulsa. Joss banget ini kartu. Hadeh. Nanti nih bagi yang sudah mandaftar dan ikut prosedur kartu prakerja akan mendapat insentif Rp 600 ribu. Dikalikan empat (4) bulan Survei kebekerjaan Rp 50 ribu x 3 kali, survei sertifikat pelatihan. Nah loh hitung sudah dapatnya berapa.

Setelah melakukan pendaftaran, pekerja ter PHK akan mendapat alokasi biaya pelatihan dari program kartu prakerja sebesar 1 juta rupiah. Untuk persyaratannya sendiri, harus WNI Usia minimal 18 tahun. Serta, bagi yang mau mendaftar tidak sedang mengikuti pendidikan formal. Mungkin kata-kata “Tidak sedang mengikuti pendidikan formal” harus benar-benar dipahami khususnya mahasiswa berjiwa miskin. Jiwanya ya, bukan nominalnya. Saya sempet tau, beberapa mahasiswa daftar kartu prakerja dengan tujuan untuk mendapatkan uangnya saja, terus mau dipakai ngopi. Aduhai, benar-benar pemuda bangsa(t).

Kembali ke kartu prakerja, untuk kuota yang disediakan, khusus wilayah Jawa Timur saja berkisar 503 lebih. Cuma ratusan kuota saja ya. Hmm. Apalagi menilai anggaran sebesar Rp5,6 triliun! Eitss hampir lupa, daftar kartu ini lewat online. Pelaksana program pemerintah pusat, sedangkan implentator kegiatan pelatihan adalah lembaga pelatihan pemerintah dan swasta. terdiri dari 8 platform digital Kemnaker dan 7 platform digital swasta. Nah kurang greget apalagi dah itu. 

Solusi yang sangat “masuk” bagi para buruh ter-PHK. Melihat potensi guna menuju industri digital 4.0 yang mutakhir. Memang Bangsa ini kalau tidak dicoba dengan satu ujian, tidak akan mencoba hal baru. Kata saya. Hehe. Becandaa. Peace.

Semoga kartu ajaib dari Pakde bisa menjamin kebahagiaan para buruh ter PHK, yang katanya tidak dapat pesangon, THR apalagi paket internet dari perusahaan. Katanya sih, tapi sepertinya benar. Hmm. 

Share your thoughts