Membangkitkan Solidaritas Pasca Pandemi; Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasional

Oleh M. Irkham Thamrin (Ketua Umum PC PMII Jombang)

Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya. Begitu penggalan lirik dari salah satu lagu kebangsaan kita Indonesia raya. Bisa kita refleksikan bersama dari gubahan lirik tersebut agar kita tidak memandang lagu Indonesia raya hanya sebatas lagu kebangsaan yang hanya dinyanyikan pada acara atau upacara tertentu. Syukur kalau masih dinyanyikan dengan rasa kebanggaan dan percaya akan jati diri bangsa. Yang jadi masalah kalau ada orang yang mengaku bangsa Indonesia akan tetapi tidak hafal akan lagu kebangsaannya.

Lagu kebangsaan Indonesia raya diciptakan oleh seorang bernama WR Supratman. Ada dua versi lirik lagu kebangsaan kita ini, akan tetapi tidak perlu mempermasalahkan akan keduanya karena sama-sama baik. Yang perlu kita lakukan adalah penjiwaan  atas lagu kebangsaan tersebut. Selain penjiwaan kita tentunya perlu merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perlu disadari, melihat fenomena yang terjadi akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang ingin mengganti bentuk NKRI dengan model yang lain. Sehingga banyak cara yang dilakukan untuk menyukseskan tujuannya dengan berbagai cara. Di antaranya banyak memanipulasi sejarah, mengatakan Indonesia ini negara thoghut (setan) dan melarang menyanyikan lagu kebangsaan sampai menghukuminya kafir khususnya bagi orang yang beragama Islam. Padahal lirik lagu kebangsaan  seperti yang  penulis kutip di atas  tidak ada sama sekali unsur yang mengarah kemurtadan.

Mafhum, lagu kebangsaan yang sering kita nyanyikan itu memang buatan dari manusia bukan buatan Tuhan. Akan tetapi selama nilai-nilai yang terkandung tidak bertentangan dengan keimanan kita, saya kira tidak perlu untuk dipermasalahkan. Saya ambil contoh salah satu lirik dari lagu kebangsaan kita bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya. Pada lirik ini memberikan pengetahuan bagi kita dalam membangun suatu bangsa atau peradaban baru yang pertama perlu dibangun adalah jiwa dari manusianya. Bisa dikatakan sumber daya manusianya khususnya dalam hal spiritualitas. Selanjutnya bisa dilanjutkan dengan fisik atau infrastruktur untuk memenuhi dan melengkapi sumber daya manusia.

Lebih-lebih dalam refleksi Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tahunnya pada tanggal 20 Mei, kali ini jatuh di tengah pandemi covid-19. 

Membangkitkan solidaritas di tengah pandemi

Sudah hampir 4 bulan dunia dilanda dengan wabah pandemi covid-19. Virus covid-19 yang sampai saat ini belum bisa diprediksi kapan akan berakhirnya menyebabkan dampak yang nyata bagi kehidupan masyarakat.  Tidak hanya sebatas masalah kesehatan, perekonomian, politik, hukum dan sosial budaya hampir rata terkena efeknya.

Sebagaimana kita rasakan bersama akibat dari covid-19 banyak orang yang kehilangan mata pencahariannya. Mulai dari buruh pabrik yang dirumahkan, pedagang yang menurun omsetnya sampai petani yang tidak sesuai antara modal yang dikeluarkan dengan hasil panennya. Ini semua kegelisahan atas fenomena yang terjadi di tengah masyarakat bawah dari dampak covid-19.

Mafhum, tentunya kita semua berharap pandemi covid-19 akan segera berlalu. Agar kehidupan normal seperti sedia kala, bisa bersosial dan bermasyarakat dengan aman tanpa ada rasa kekhawatiran. Akan tetapi sampai saat ini belum juga ditemukan vaksin atau obat yang bisa digunakan untuk mengusir virus covid-19.

Selain daripada itu, jumlah kasus korban akibat virus ini, tiap hari bukan menurun melainkan terus naik. Sampai pemerintah pun lewat BPNB tidak akan menampilkan lagi menayangkan data korban dari covid-19 ini. Dengan alasan agar tidak menambah kecemasan dan kekhawatiran di tengah masyarakat. Lalu apa yang harus kita perbuat dalam menghadapi pandemi yang belum tahu kapan perginya?

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan bersama untuk menghadapi pandemi wabah covid 19 ini.

Pertama, dalam menjalankan aktivitas sehari hari upayakan sudah sesuai dengan protokol kesehatan.

Kedua, jangan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenaran terkait covid-19 ini. Karena banyak hoax yang sengaja dibuat oleh pihak tertentu untuk menambah kekhawatiran di masyarakat.

Ketiga, selalu berupaya menjaga diri dan tetangga sekitar untuk bersama sama untuk saling menjaga dan terus ikhtiar untuk dengan melangitkan doa. Karena yang paling penting dalam menghadapi pandemi covid-19 ini dengan terus membangkitkan  solidaritas antar sesama.

Kebangkitan nasional pascapandemi covid-19

Belajar dari sejarah, diketahui atau tidak penetapan tanggal 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional memicu polemik sendiri di kalangan tokoh nasional pada saat itu. Penetapan Hari Kebangkitan Nasional itu dimulai pada tahun 1948 oleh Presiden Soekarno di Istana Kepresidenan Yogyakarta. Penetapan Hari Kebangkitan Nasional ini diambil dari berdirinya organisasi pergerakan Boedi Oetomo yang didirikan oleh mahasiswa bumiputera saat itu.

Sebagai mana yang dikatakan Rushdy dilansir dari Historia.id Ki Hadjar Dewantara dan Radjiman Wediodiningrat mengusulkan kepada Soekarno-Hatta dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ali Sastroamidjojo agar memperingati peristiwa berdirinya Boedi Oetomo, pada 20 Mei 1948 sebagai Hari Kebangkitan Nasional (saat itu istilahnya Kebangunan Nasional) yang ke-40.

Tetapi, menurut Ki Hadjar Dewantara dalam dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan, inisiatif itu datang dari Soekarno. “Hari itu (20 Mei 1908) menurut beliau adalah hari yang patut dianggap hari mulia oleh bangsa Indonesia, karena pada hari itu perhimpunan kebangsaan yang pertama, yaitu Boedi Oetomo, didirikan dengan maksud menyatukan rakyat, yang dulu masih terpecah-belah, agar dapat mewujudkan suatu bangsa yang besar dan kuat,” tulis Ki Hadjar.

Pada awalnya Boedi Oetomo adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh kalangan mahasiswa untuk mengumpulkan bumiputera agar bisa mendapat beasiswa sekolah. Sebagaimana yang dituturkan oleh sejarawan Rusdhy Hoesin, biar bagaimanapun juga peristiwa didirikannya Boedi Oetomo oleh  sejumlah mahasiswa kedokteran Stovia pada 20 Mei 1908 merupakan peristiwa penting perjuangan kebangsaan, masa depan Indonesia dan secara tersamar “kemerdekaan Indonesia.”

Tanpa mempersoalkan berlanjutnya organisasi Boedi Oetomo yang kemudian melangsungkan kongresnya yang pertama tanggal 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta, di mana nyata-nyata organisasi ini berbelok menjadi organisasi dengan kepentingan lain. “Ternyata Boedi Oetomo 20 Mei 1908 punya hubungan benang merah dengan peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945,” kata Rushdy Hoesin.

Terlepas dari itu semua, peringatan hari kebangkitan nasional tahun 2020 ini bisa kita refleksikan untuk menjadi kebangkitan nasional jilid 2. Melihat awal dibentuknya Boedi Oetomo oleh mahasiswa kedokteran Stovia, hari ini bisa kita lihat bersama yang menjadi garda terdepan dalam upaya menangani korban covid-19 adalah mereka alumni dari fakultas kedokteran dan Ilmu kesehatan. Mereka para dokter dan perawat sebagai pahlawan yang berjibaku menangani pasien covid-19. Mereka mengorbankan apapun untuk menangani pasien covid-19, bukan karena hanya karena imbalan atau gaji yang besar. Mulai dari tenaga, pikiran, harta dan nyawa pun mereka rela korbankan seperti yang baru beberapa hari yang lalu gugur perawat dari salah satu rumah sakit di Surabaya bersama janin yang dikandungnya.

Mafhum, dalam  menghadapi pandemi covid-19 sudah menjadi tugas mereka para dokter dan perawat untuk menanganinya. Akan tetapi kita sebagai saudara dan warga negara harus saling membantu dan terus membangkitkan solidaritas untuk saling jaga. Bukan malah seenaknya dengan melakukan tindakan atau aktivitas yang mengabaikan protokol kesehatan. Setidaknya kita harus menghormati pengorbanan mereka untuk kebaikan kita semua.

Selain daripada itu pemerintah jangan sampai membuat kebijakan yang menodai nurani mereka. Seperti halnya membuka bandara dan tempat keramaian lainya tanpa memperketat protokol kesehatan dan menyediakan fasilitas kesehatan. Sebagai saudara sebangsa dan setanah air sangat menyayangkan kebijakan pemerintah yang terkesan tarik ulur dan simpang siur terkait covid-19. Seperti halnya antara pelarangan mudik dengan  memperbolehkannya dan antara pelarangan aktivitas keagamaan akan tetapi melonggarkan tempat keramaian seperti pasar, mall dan tempat keramaian lainya. Dan juga di tengah kekhawatiran itu pemerintah mengadakan konser amal tanpa memperhatikan protokol kesehatan yang dibuka langsung oleh presiden Jokowi. Tidak heran jika muncul tagar #Indonesiaterserah sebagaimana yang dikemukakan oleh dr. Tirta salah satu dokter yang aktif dalam edukasi dan melakukan gerakan sosial terhadap masyarakat terkait covid-19.

Selain itu, saya angkat topi setinggi tingginya dan hormat kepada para pahlawan kesehatan yang sudah berjibaku mencurahkan tenaga, pikiran dan nyawanya untuk penanganan korban covid-19. Karena di tengah kebijakan yang ngawur dan simpang siur mereka masih tetap menjadi garda terdepan dalam penanganan kasus covid-19. Tidak bisa membayangkan kalau mereka mogok kerja semua akibat kebijakan yang mencederai hati nurani mereka. Pastinya korban semakin banyak dan jumlah angka kematian akan terus bertambah.

Oleh karenanya pada momen Hari Kebangkitan Nasional ini, mari kita bangkitkan solidaritas nasional untuk bersama sama memutus penyebaran covid-19. Dan juga kita harus memikirkan untuk membangkitkan dan memulihkan kehidupan pasca pandemi ini. Karena semua lini terdampak dan hari ini Menteri Keuangan kita akan menambah hutang ke luar negeri yang angkanya cukup fantastis mencapai 697,3 Triliun sebagaimana dilansir dari tirto.id.

Dan pada akhirnya saya berharap kepada semuanya apapun situasi dan kondisinya kita harus tetap optimis dan saling membangkitkan semangat antara satu sama lain. Kita bangsa yang besar dan kuat sejarah telah membuktikan. Bangsa yang semangat tolong-menolong dan gotong-royongnya  sangat tinggi. Dan kita harus yakin dengan semangat kebangkitan nasional yang didasari kebangkitan jiwa dan raga semua akan terlewati dengan kemenangan. Sebagaimana kita mampu menang mengusir penjajah pada masa kemerdekaan dahulu.

Salam Pergerakan

Bangkitlah wahai bangsaku.

Share your thoughts