Mempererat Ukhwah di Tengah Wabah

Oleh M. Irkham Thamrin (Ketua Umum PC PMII Jombang)

Oleh: Irkham Tamrin (Ketua PC PMII Jombang)

Tidak terasa pandemi Covid-19 telah melanda umat manusia sampai saat ini. Pandemi yang mewabah hampir merata di seluruh dunia ini mulai dari Cina, Eropa, Amerika hingga  negara kita Indonesia ini belum diketahui secara pasti kapan berakhirnya. Banyak analisis mengatakan kalau pandemi akan berakhir di akhir bulan Mei. Hal ini sebagai mengutip surat edaran yang dikeluarkan oleh BNPB nomor 13 A tahun 2020  menyebutkan terkait perpanjangan tertentu akibat virus corona yang mana diperkirakan akan berakhir pada 29  Mei 2020.

Pandemi Covid-19 ini, sangat terasa dampaknya bagi kehidupan kita bersama. Baik kehidupan berbangsa dan bernegara maupun kehidupan kita sebagai umat beragama. Berbicara kehidupan berbangsa dan bernegara, sangat tampak efeknya dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dalam masalah  sosial, budaya, ekonomi dan hukum. Seperti yang  kita rasakan bersama  banyak warga negara yang kehilangan mata pencaharian. Mulai dari buruh harian, buruh pabrik dan pekerjaan lainya. Perusahaan besar pun juga banyak terkena imbasnya. Karena tidak mampu memberikan upah minimum terhadap pegawainya akhirnya memberhentikan para pekerjanya.

Perlu diketahui bersama Kementerian Ketenagakerjaan mencatat pekerja  yang dirumahkan per bulan April kemarin, mencapai 2,08 juta pekerja. Hal ini juga sebagaimana dilansir oleh Cnnindonesia pada bulan April. Untuk bulan Mei banyak kemungkinan ada penambahan pekerja yang dirumahkan. Tentunya semakin banyak pekerja  dirumahkan ataupun semakin banyak yang kehilangan mata pencaharian akan semakin meningkatkan kesenjangan sosial. Menjadi tanggung jawab bersama agar stabilitas keamanan dan kenyamanan kehidupan sosial kita dalam berbangsa dan bernegara.

Begitu juga dalam kehidupan beragama, kita sangat merasakan dampak dari efek pandemi ini. Khususnya umat Islam yang mana pandemi Covid-19 ini juga terjadi pada bulan Ramadhan. Ada sedikit  contoh yang memalukan yang terjadi di salah satu kelurahan di kota Jakarta. Yang mana kejadian itu dipicu atas perkataan seorang yang mengingatkan untuk tidak shalat tarawih  secara bergerombol di masjid. Menjadi potret yang serius di mana yang mengingatkan mendapatkan pengeroyokan oleh beberapa orang yang tidak menerima atas ucapan atau peringatan tersebut.  Padahal pemerintah sudah memberikan surat edaran untuk melakukan social distancing dan physical distancing yang mana aktivitas seperti beribadah dan bekerja sementara dari rumah. 

Selain itu juga ormas keagamaan seperti Nahdlatul Ulama  memberikan pernyataan agar untuk sementara waktu shalat tarawih dan shalat Idul Fitri nanti dilakukan di rumah. Hal ini guna untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 agar tidak menyebar semakin luas. 

Relevansi ukhwah  dan wabah Covid-19

Sebagai seorang santri tentunya tidak asing tentang istilah ukhwah wathoniyah, ukhwah basyariah dan ukhwah islamiah. Dalam menghadapi wabah pandemi Covid-19 ini tentunya kita semua harus gotong-royong untuk saling menjaga dan saling menguatkan. Karena pada dasarnya kita semua adalah saudara dalam bernegara atau ukhwah watoniyah yang mana hidup berdampingan dalam satu negara iaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak boleh memandang perbedaan  pilihan politik ataupun sentimen negatif lainnya, kita semua sama. Sama-sama warga negara Indonesia yang sedang  perang melawan pandemi Covid-19. Oleh karenanya  dalam hubungan bernegara ini harus memeningkan kemaslahatan yang lebih besar daripada kepentingan kelompok atau peribadi. 

Mafhum, kita semua sebagai warga negara dijamin atas hak dan kebebasannya, akan tetapi jangan sampai kita semua memaksakan hak kita atas hak orang lain. Seperti halnya hak berpolitik, kita semua boleh menentukan siapapun pilihan kita. Akan tetapi dalam menghadapi pandemi ini jangan sampai perbedaan politik membuat kita enggan untuk membantu satu sama lain. Atau sebaliknya di saat pandemi seperti ini malah menjadikan kesempatan untuk membalas dendam terhadap lawan politiknya. Tindakan seperti itu tidak pantas dilakukan dan sangat disayangkan.  karena pada dasarnya kita semua adalah saudara dalam berbangsa dan bernegara, dan sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menjaganya.

Selain itu juga, keterbukaan pemerintah dan kebijakan yang tepat untuk penanganan Covid-19 ini sangat dinantikan. Jangan sampai pemerintah menutup diri dan membuat kebijakan tidak tepat sasaran. Kalau ini terjadi krisis kepercayaan terhadap pemerintah akan semakin kuat, yang mana membuat penanganan semakin sulit. Karena pada dasarnya kita semua sebagai warga negara  akan menaati pemerintahnya bilamana pemerintahan kuat dan selalu mementingkan kepentingan masyarakat. Kita semua sebagai warga negara sangat menantikan kehadiran negara dalam masa-masa sulit seperti ini. Seperti halnya memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari. 

Sudah menjadi kewajiban dan tanggung pemerintah memberikan  kebijakan-kebijakan yang mana harus pro dengan rakyat seperti halnya BLT Kementerian Sosial, BLT Dana Desa dan beberapa bantuan yang diambil dari APBD provinsi atau daerah. Akan tetapi jangan sampai bantuan tersebut tidak tepat sasaran ataupun terjadi politisasi di dalamnya. Sangat disayangkan di tengah pandemi Covid-19 ini masih ada kelompok tertentu atau orang yang memanfaatkan bantuan dari pemerintah untuk kepentingan politiknya. Seperti yang terjadi di Klaten dan beberapa daerah lainnya. Ini sangat memalukan memanfaatkan bantuan kemanusian untuk kepentingan perorangan  yang hanya menaikkan elektabilitas semata.

Ukhwah basyariah dan korban Covid-19

Sebagai mana penulis sebutkan di awal setelah ukhwah wathaniyah (persaudaraan bernegara) ada ukhwah basyariah yakni persaudaraan dalam hal kemanusiaan. Maksudnya adalah kita harus menyadari bahwa kita semua adalah manusia yang mana harus bisa memanusiakan-manusia lain. Perlu diketahui bersama awal munculnya Covid-19 sebelum menyebar ke seluruh dunia ini di kota Wuhan Cina, yang mana terjadi sekitar 3 bulan yang lalu. Setelah kejadian tersebut muncul stigma buruk bagi warga atau etnis Tionghoa di beberapa tempat. Seperti halnya yang terjadi di negara kita Indonesia, ada yang sengaja memunculkan isu dan sentimen negatif terhadap etnis keturunan Tionghoa. Seakan akan menyebutkan bahwa orang Cina atau etnis Tionghoa adalah sumber penyakit. Lebih-lebih virus corona 19 ini yang mana awal kemunculannya di Wuhan Cina. Hal ini sangat mencederai semangat ukhwah basyariah kita.

Mafhum, kita semua boleh membanggakan dari mana kita berasal sebagai mana yang dilakukan oleh pemimpin besar umat Islam nabi Muhammad saw yang menyebutkan tentang kemuliaan suku Quraisy.  Akan tetapi nabi juga mengajarkan agar tidak  merasa tinggi dan unggul atas etnis atau suku yang lain. Karena pada dasarnya tidak ada keutamaan dan keunggulan kecuali ketaatan kita terhadap Tuhan semesta alam. Selain itu, juga yang mana selalu junjung dalam etika bernegara dan berbangsa kita dengan istilah bhinneka tunggal ika.

Di sisi lain setelah merebaknya Covid-19 ini yang mana menimbulkan korban jiwa ada fenomena aneh yang terjadi di masyarakat kita. Yaitu masyarakat enggan menerima korban atau jenazah pasien dari Covid-19. Penolakan itu memang ada alasannya dan berharap agar virus Covid-19 ini tidak menyebar semakin luas. Hal itu masih bisa dimaklumi semata-mata hanya untuk menjaga kewaspadaan menyebarnya virus tersebut. Akan tetapi yang menjadi perhatian adalah apakah jenazah yang dimakamkan sesuai protokol kesehatan itu masih bisa menular. Dan kita jangan lupa bahwa mereka itu adalah saudara kita, sama-sama manusia yang sudah sepatutnya kita hormati layaknya manusia. 

Oleh karenanya dalam menghadapi wabah Covid-19 ini sangat diperlukan kebersamaan dan saling jaga. Kita harus menyadari korban dari Covid-19 itu juga manusia. Tidak patut kalau kita memberi stigma buruk pada mereka. Kalau itu masih terjadi kita harus pertanyakan dimana ukhwah basyariah atau persaudaraan atas nama kemanusiaan kita?

Wabah Covid-19 dan memupuk ukhwah islamiah

Hampir semua lini kehidupan terkena dari dampak wabah pandemi Covid-19 ini, tidak lain adalah kehidupan beragama kita.  Kehidupan beragama seperti shalat Jum’at, tarawih dan shalat terkena imbas dari wabah pandemi Covid-19 ini. Seperti halnya ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran terkait shalat Jum’at, shalat Tarawih dan shalat Ied ini untuk sementara waktu ditiadakan. Bukan berarti ormas Islam melarang jamaahnya untuk tidak shalat Jum’at atau shalat-shalat lainya. 

Dalam literatur Islam ada kaidah  dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih, yang artinya mencegah kerusakan lebih diutamakan dari pada menarik kemaslahatan. Kaidah seperti yang dipakai oleh ormas Islam khususnya NU yang mana sebagai ormas terbesar di Indonesia. tentunya keputusan dari ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah ini ada penolakan ataupun pembangkangan. Akan tetapi menjadi hal yang bisa diterima di masyarakat ketika pelarangannya itu pendekatnya adalah mashlahatul ammah atau kemaslahatan umum. 

Mafhum, kesadaran beragama umat Islam di Indonesia saat ini sedang menunjukkan peningkatannya. Lebih-lebih ada fenomena baru di kalangan selebriti Indonesia dengan istilah hijrah. Hijrah dimaksudkan perpindahan seseorang dari yang dulunya gaya hidup tidak islami menuju gaya hidup yang islami. Seperti halnya yang dulunya tidak memakai hijab ketika berhijrah mulai berhijab bahkan ada yang memakai cadar. Tindakan seperti itu tidak salah karena tujuan dan maksudnya adalah positif yaitu meninggalkan kebiasaan lama yang buruk menuju kebiasaan baru yang baik. Akan tetapi ada cacat istilah dalam penggunaan kata hijrah. Lebih tepatnya menggunakan istilah taubat. Karena dalam literatur Islam istilah hijrah digunakan pada saat nabi berpindah dari Makkah ke kota Yastrib yang mana setelah nabi hijrah disebut Madinah sehingga disebut hijratun nabi.  

Di tengah kesadaran beragama dan semangat agama yang tinggi tentunya harus tinggi pula persaudaraan antar umat beragama, khususnya persaudaran antar umat Islam atau ukhwah islamiyah. Agar tidak terjadi kepincangan dalam beragama dan memunculkan egosentris dalam beragama. Yang mana merasa paling benar dan seakan akan dirinyalah sebagai penganut Islam yang sesungguhnya. Dan kemudian menyalahkan kelompok lain yang tidak sama dalam pemikiran ataupun tindakan bahkan berani melabeli saudaranya sendiri dengan sebutan kafir. Apalagi hanya karena berbeda jumlah rakaat tarawih dan tempat pelaksanaannya lalu berani mencelakai saudara sendiri. Sungguh memalukan kalau ini masih terjadi di negara yang mayoritas beragama Islam.

Ditengahi pandemi ini seharusnya sebagai sesama kaum beragama khususnya penganut agama Islam harus saling memupuk rasa ukhwah islamiyah kita. Di mana kita harus saling menjaga dan melangitkan doa agar wabah Covid-19  segera diangkat oleh Allah yang Maha Kuasa. Bukan malah sebaliknya kita mempermasalahkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Dan kita tidak perlu lagi mempermasalahkan doa siapa yang nanti diterima biarkan umat muslim terbiasa dengan perbedaannya. Bukankah kita perbedaan itu rahmat bagi kita semua? 

Dan pada akhirnya penulis berharap di tengah wabah Covid-19 ini mari kita rawat kesadaran dan semangat beragama dengan selalu menjaga ukhwah islamiyah. Khususnya di bulan Ramadhan kali ini mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan agar nanti pasca Ramadhan dan pasca wabah Covid-19 ini kita benar-benar menjadi hamba yang bertakwa. Bukankah tujuan dari puasa adalah menjadi hamba yang bertakwa?

Share your thoughts