Merdeka dari Penjajah, Terbelenggu Hawa Nafsu

Oleh: Najihul Huda

Wakil Ketua I PC PMII Jombang

Rasulullah SAW. Ketika usai perang Badar yang dahsyat, kaum muslim banyak yang mati syahid bersabda, “Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar”. Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”

Ini sejalan dengan kondisi bangsa kita saat ini yang telah melewati masa kelam 350 tahun dijajah oleh Belanda, dan ditambah lagi 3,5 tahun dijajah oleh Jepang. Semangat heroik bangsa kita silih berganti melakukan perlawanan terhadap penjajah. Puncaknya saat pendudukan Jepang, di mana sekutu memborbardir Kota Hiroshima dan Nagasaki. Sehingga membuat Jepang menyerah. Kondisi ini diketahui para kaula muda yang akhirnya mendesak Ir. Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dengan beragam kisah akhirnya tepat tanggal 17 Agustus 1945, di jalan Pengangsaan Timur No. 57, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Kondisi ini merupakan kondisi awal kita kembali dari jihad yang kecil, menuju jihad yang lebih besar yakni melawan hawa nafsu.

Ir. Soekarno pernah berujar, “perjuanganku lebih mudah karena melawan bangsa asing, dan perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”. Sudah 75 tahun kita merdeka dan selama itu juga kita masih terus berjuang dalam jihad melawan hawa nafsu. Momentum kemerdekaan kali ini kita masih dihidangkan polemik-polemik yang seharusnya bisa diselesaikan ataupun bisa jadi tak harus menjadi ramai. Cita-cita pahlawan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tak lain hanyalah ingin hidup bahagia rukun sentosa bersama sesama bangsa. Namun hari ini masih saja kita belum menemukan kebahagiaan yang dicita-citakan karena banyak hal yang sarat kepentingan untuk keuntungan pribadi atau kelompoknya.

Perjuangan pahlawan mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa ini terasa masih belum bisa kita lampaui, bila dibandingkan perjuangan kita untuk mempertahankan kemerdekaan ini. Syukur-syukur bisa memajukan bangsa ini. Kita malah bertikai pada hal yang tak seharusnya dibuat ramai. Satu contoh penafsiran billboard logo kemerdekaan ke-75 ini yang lagi ramai di media sosial. Hanya karena mirip dengan logo agama tertentu menjadi pembahasan yang runcing dan seolah-olah tanpa solusi. Padahal terbentuknya NKRI ini tidak melalui proses dari perjuangan agama, murni proses perjuangan seluruh elemen bangsa tanpa melihat latar belakang agama.

Terbentuknya dasar negara ini pun tidak menggunakan landasan salah satu agama, karena bangsa kita terdiri dari berbagai suku, ras dan agama. Maka dari itu founding father negara ini tidak menitik beratkan pada agama tertentu untuk menjadi agama bagi masyarakat Indonesia.

Berbeda pendapat dan pandangan boleh tapi jangan dilandasi dengan kebencian. Jangan menuruti hawa nafsu sehingga kita melupakan persaudaraan. Kita harus mengatur hawa nafsu, agar tidak diperbudak olehnya.

Dengan semangat memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke 75th semoga kita bisa menjadi warga negara yang lebih demokratis serta menjungjung tinggi kemanusiaan, menghargai perbedaan dan merawat persatuan. Merdekaaaa.

Share your thoughts