Nasib Buruh di Tengah Pandemi

Oleh: M. Irkham

Ketum PC PMII Jombang

Sebuah refleksi di hari buruh

Beberapan hari yang lalu beredar di media, Presiden Jokowi memerintahkan Kementrian BUMN untuk membuka lahan. Hal ini disinyalir bahwasanya banyak analisis yang mengatakan akan adanya krisis pangan dunia. Dengan membuka lahan untuk pertanian harapanya bangsa Indonesia bisa survive menghadapi krisis tersebut lebih lebih bisa mencapai swasembada pangan.

Memang betul sebagian negara sudah mengumumkan untuk membuka lockdown atau karantina wilayah seperti halnya Tiongkok dan Abu Dhabi. Secara otomatis dengan dibukanya wilayah menunjukan pandemi covid sudah mulai reda dan berangasur pulih. Hal ini juga nampak terjadi di Jakarta dengan adanya PSBB jumlah korban pandemi covid terus menurun.

Walaupun demikian bukan berarti bangsa kita sudah memasuki zona aman dari covid, kita harus tetap waspada dan saling jaga sampai pandemi covid ini dinyatakan aman oleh pemerintah. Tidak perlu bersitegang dan memperdebatkan isu yang ada. Keterbukaan data dari pemerintah yang membuat kita yakin pemerintah serius menangani masalah ini.

Selain itu, kesadaran kita tentang kebersihan, menjaga kesehatan, dan mengikuti aturan aturan dari pemerintah juga perlu terus ditingkatkan. Jangan sampai kita sebagai warga negara yang tidak menaati anjuran anjuran yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Kalau kedua nya berjalan saya kira pandemi ini akan segera berlalu.

Pandemi covid dan pekerja buruh

Pandemi covid 19 tidak hanya membahayakan kesehatan umat manusia. Akan tetapi lebih dari itu berefek pada runtuhnya dan kesenjangan ekonomi dunia. Hal ini berimbas pada pekerja buruh khusus buruh di negara kita. Mengutip dari data yang dirilis Kementerian Ketenagakerjaan, buruh yang dirumahkan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 2,08 juta pekerja. Lebih dari setengahnya itu berasasal dari sektor formal akibat dampak dari covid 19.

Mafhum, melihat data PHK tersebut tentunya menjadikan banyak warga yang kehilangan mata pencaharian, sedangkan kebutuhan setiap hari harus dipenuhi. Wajar kalau banyak yang mengatakan bangsa kita akan mengalami krisis pangan. Menurut Mentri Ketenagakerjaan PHK menjadi langkah pamungkas, langkah terpaksa yang harus dilakukan ketika langkah lain tak mungkin bisa dilakukan tapi kalau masih ada langkah lain seperti meniadakan jam lembur atau sif maka akan dicoba lebih dahulu. Hal ini sebagai dilansir dari CNN Indonesia.

Akan tetapi yang menjadi ironisnya ketika pemerintah memerintahkan untuk di rumah saja kerja dari rumah atau WFH bahkan PHK jutaan warga Indonesia, ada informasi terkait pekerja dari asing datang lewat Sulawesi. Hal ini dibenarkan juga oleh Kemenaker terkait akan adanya tenaga asing yang akan menjadi buruh dua perusahaan di Sulawesi. Sangat disayangkan di tengah wabah pandemi covid 19 kita sebagai warga harus menelan pil pahit ini.

Nasib buruh tani dan efek pandemi

Presiden dalam rapat terbatas mengatakan agar petani tetap bekerja di tengah pandemi. Harapanya akhir April ini bisa mengalami panen raya agar stok beras nasional stabil. Presiden juga memerintahkan agar Bulog bisa membeli beras dari petani untuk persiapan menghadapi krisis pangan di tengah pandemi ini. Sedikit ada angin segar bagi buruh tani di mana saat panen nanti tidak kebingungan untuk menjualnya.

Memang betul presiden tentunya memerintahkan petani tetap bekerja di tengah pandemi ini untuk memperhatikan protokol kesehatan. Akan bukan di situ yang menjadi titik poin dalam pembahasan ini. Buruh tani sebagai pahlawan negeri ini kesejahteraanya tidak pernah masuk regulasi. Bahkan saat peringatan Hari Buruh atau May Day yang sering disuarakan adalah buruh buruh pabrik atau sejenisnya. Padahal buruh tani peran dan fungsinya sangat berarti khususnya untuk menjaga ketahanan pangan. Akan tetapi tidak ada aturan terkait gaji apakah UMR atau tidak.

Selain itu juga, kesejahteraan buruh tani juga sangat jauh dari harapan. Jangan berharap tunjangan atau gaji bulanan, kesalamatan dalam melakukan pekerjaan pun tidak ada aturannya. Sangat disayangkan padahal negara kita punya Kementrian Pertanian tapi para buruh petani kita tidak atau belum terpikirkan. Sungguh ironis sebuah negeri yang dikatakan negeri agraris namun nasib buruh taninya masih miris.

Di hari buruh ini atau May Day saya ingin mengatakan dan angkat topi untuk para buruh, khususnya buruh tani sebagai pahlawan negeri. Semoga para buruh di Indonesia dan dunia selalu diberi kesehatan dan kebahagian. Walapun terkadang harus menahan rasa sakit atas sebuah kebijakan.

Selamat Hari Buruh

May Day May Day

Share your thoughts