Rasialisme Perspektif Mahbub

Oleh: Rizal Abdillah

PK Hasyim Asy’ari

Spesial edisi BAPERAN (Bahas Pemikiran) yang rutin dilaksanakan setiap Senin malam Selasa di Rumah Pergerakan.

Antara Rasialisme dan Dendam Ekonomi

Tulisan ini dimulai oleh Mahbub dengan mengenang perjalanannya menuju Kota Bandung – tidak dijelaskan kapan waktunya. Saat itu Mahbub pergi ke Bandung bersama Ajip Rosadi, ketika memasuki Kota Bandung, Ajip berkelakar, “Pakai peci Bung; nanti disangka engkoh!”. Mahbub mencoba mengenang kerusuhan 5 Agustus 1973. Kerusuhan dimulai dari lepas maghrib sampai menjelang waktu Subuh.

Peristiwa itu bermula dari insiden pemukulan seorang tukang gerobak yang kena pukul oleh seorang keturunan Tionghoa karena mobilnya keserempet. Hanya selang waktu 3 jam, insiden pemukulan tersebut dibalas dengan penjarahan besar-besaran dan pembakaran toko-toko yang dimiliki oleh orang Tionghoa atau keturunan Tionghoa. Suasana mencekam menyelimuti Kota Bandung, rumah-rumah dan toko-toko terpampang tulisan “Milik Pribumi” dan ada juga yang tertulis “Milik Orang Sunda”.

Banyak orang yang menganggap peristiwa itu adalah spontan. Tapi Mahbub menganggap itu bukan peristiwa spontan. Ada statement Mahbub yang banyak dikutip orang banyak, “Bangsa ini tidak akan menjadi bangsa yang kuat selama rasa kesukuan, rasa asli dan bukan asli, rasa mendiskriminasi sesama warga negara, masih terdapat di dalam kalbu masyarakat”. Bangsa ini akan cepat rapuh dan mudah patah.

Rasialisme harus dihapuskan, bagi Mahbub, “Selama api dalam sekam ini tidak dibongkar sebab-musababnya, pada suatu saat bisa meledak kembali, tak habis-habisnya”. 10 tahun sebelumnya juga Bandung terjadi kerusuhan, tepatnya pada 10 Mei 1963. Sehinggap Presiden menerbitkan Keputusan Presiden No. 140 tahun 1963, berdirilah Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa. Lembaga tersebut bertugas supaya ada Asimilasi dan Akulturasi diantara sesama warga Indonesia, tak pandang asal suku dan keturunan.

Walaupun nantinya lembaga tersebut lenyap pada tahun 1967, tapi spiritnya masih ada. Bukan berarti permasalahan Rasialisme hilang begitu saja, buktinya masih terjadi kerusuhan di Bandung pada 5 Agustus. Berarti masih ada penolakan Asimilasi, walau tidak terang-terangan, justru pribumi lah yang melakukan itu. Menurut Mahbub, “Rasialisme itu bukanlah semata-mata lantaran warna kulit, bukan lantaran yang satu asli dan yang satu keturunan asing, dorongan utama yang mempertajam jurang itu adalah perbedaan tingkat hidup ekonominya.

Menurut Mahbub untuk menghilangkan Rasialisme adalah dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua warga Negara, tak peduli dari keturunan jin sekalipun, asal mereka memiliki hasrat untuk bekerja. Selama para pejabat masih pilih bulu, selama mereka melakukan diskriminasi dengan ukuran-ukuran faedah buat dirinya sendiri, jangan diharap segala rupa asimilasi ini ada gunanya.

Masih Relevan-kah Pendapat Mahbub – tentang Rasialisme – di era sekarang?

Tentunya masih relevan, karena di era saat tindakan Rasialisme sering kali terjadi, baik kita sadari maupun tidak. Di sinilah poin utamanya, ketika kita mengimplementasikan buah pemikiran Mahbub tentang Rasialisme ini. Namun sebelum jauh mengimplementasikan buah pemikiran Mahbub, alangkah baiknya kita merefleksikannya terlebih dahulu.

Mahbub yang kita kenal saat ini, tidak ujug-ujug jadi begitu saja. Ada proses yang dilewati, sehingga terbentuklah Mahbub yang kita kenal sekarang. Mahbub yang memiliki kepedulian, solidaritas dan keberanian tinggi, acap kali menjadi duri bagi penguasa. Mahbub yang sering menyuarakan suara masyarakat pinggiran, masyarat tertindas, anak-anak gelandangan, dan kritik-kritik tajam namun jelas terhadap penguasa, membuatnya harus ditahan tanpa diadil selama satu tahun di RSPAD.

Poin penting yang didapati dari Mahbub adalah kepedulian. Berulang kali saja sebutkan Mahbub memiliki kepedulian tinggi. Salah seorang juniornya saat masih di PB PMII memberikan testimoni tentang Mahbub, “Satu kata untuk mewakilkan Mahbub adalah kepedulian. Saat ia masih menjadi Ketua Umum, ia sangat peduli dengan kader-kadernya. Ia mau menghadiri undangan dari Komisariat, ia pergi meninggalkan keluarganya. Walaupun yang hadir empat orang, ia akan tetap berbicara layaknya diseminar yang dihadiri banyak orang. Itu lah yang tidak bisa saya tiru,” tutur KH. Ahmad Bagdja. Dan ada juga cerita lain yang membuktikan kepedulian Mahbub. Dikisahkan, Mahbub dan keluarganya pernah berada di fase tidak memiliki uang sama sekali dan beras di rumah mulai habis, itu disebabkan karena Mahbub lebih memilih memberikan uangnya kepada teman atau orang yang lebih membutuhkan. Mahbub memang tidak pernah memikirkan dirinya dan keluarganya, yang dalam pikirannya hanyalah “Bagaimana caranya membantu orang yang kesusahan”. Karena Mahbub memiliki prinsip, “Jangan mudah menukar prinsip, meski beras di rumah mulai menipis”.

Share your thoughts