Kader Cluster Agama Kini dan Nanti

Oleh: M. Irkham Thamrin

Tidak terasa bulan April sudah berakhir, bulan di mana organisasi PMII merayakan harlahnya dan kini genap berusia 60 tahun. Suasana harlah pun sudah mulai tidak nampak lagi berbeda dengan beberapa hari yang lalu, semarak harlah online menghiasi laman media kita. Mulai dari story WA, status FB sampai beranda di Instagram  dan media-media lainya. Bahkan saking semaraknya banyak kader yang aktif memberikan doa dan harapan secara online untuk kebaikan masa depan organisasi.  Bahkan di waktu yang sama ada semacam ungkapan kalau ingin lihat banyaknya kader PMII hari ini salah satunya lihatlah  media sosial sekarang, akan tetapi kalau ingin melihat kader PMII yang loyal lihatlah berapa kader yang datang saat kegiatan rayon, komisariat dan cabang.

60 tahun bukan usia yang muda lagi di mana diukur dari masa berdirinya PMII masih aktif dan eksis sampai sekarang. Dalam perjalananya PMII selalu terlibat aktif dalam pergerakan nasional dari masa ke masa. Mulai dari orde lama, orde baru dan masa reformasi sampai sekarang PMII tidak pernah absen sedikit pun dalam urusan khidmah terhadap NKRI. Menjadi hal yang relevan bilamana PB PMII dalam Harlah ke 60 kemarin mengusung tema “Khidmat PMII untuk Negeri”. Sebuah refleksi untuk kita semua sebagai kader PMII, apakah mampu meneruskan perjuangan para senior yang lebih dulu berproses dan membawa marwah organisasi di tahun tahun berikutnya.

Mafhum, tentunya di dalam usia yang 60 ini PMII masih perlu banyak yang kita evaluasi. Tantangan pun semakim banyak dan beragam, mulai tantangan global, lokal sampai internal di dalam tubuh oragnisasi PMII sendiri. Sebagaimana yang diungkapakan oleh Dwi Winarno dalam buku kaderisasi nasonal. Bahwa perubahan dunia internasional dipandang dengan geopolitik global menjadikan tantangan tersendiri bagi kader PMII. Setidaknya ada empat hal fenomena dari globaliasi yang terjadi, pertama etno scape adalah orang modern yang terus-menerus memperbaharui kemodernanya dengan cara mendatangi etnis yang menurutnya terbelakang. Kedua capital scape adalah perputaran uang pada ranah global sehingga uang itu sendiri tidak memiliki kewarganegaraan. Ketiga  ideo scape artinya ide yang dapat melewati batas trans nasional contohnya gejala terorisme yang ada di Timur Tengah yang merambat sampai Indonesia. Yang keempat  media scape yang mendorong dan mengkontruksi pemikiran kita.

Menjadi agamawan yang berbudaya

Dwi winarno dalam buku kaderisasi membuat rilis data terkaiat garis besar tantangan dan potensi dari kader PMII. Dari buku itu disebutkan bahwasanya kader yang berlatar belakang kampus umum sebanyak 41 % dan kader dan anggota PMII yang berasal dari kampus agama 59 %. Dari 59% kader dan anggota PMII yang berasal dari kampus agama, 64 % berasal dari kampus agama negeri sisanya dari kampus agama swasta. Lebih rinci lagi kalau dilihat dari jurusanya dan prodinya 53 %  kader dari jurusan Tarbiyah atau Pendidikan Agama Islam, 15 % dari jurusan Hukum atau Syariah, jurusan Fisip, Ekonomi dan TIK masing masing dapat 6%, Teknik, Mipa, Filsafat atau Usuluddin, Kesehatan dan Pertanian masing-masing 3%.

Melihat data yang dihimpun pada tahun 2012 ini saya kira tidak jauh beda dengan kondisi sekarang. Kalaupun ada penambahan saya kira belum terlalu signifikan. Sebenarnya tanpa data tersebut kita sadar dan tahu bahwa sebagian besar kader PMII berasal dari kampus agama. Bukan berarti data terkait latar belakang pendidikan dan potensi ini tidak penting. Akan tetapi dengan data ini kita dapat membuat skema skema kaderisasi yang konkrit sesuai dengan kapasitas keilmuan fakultatifnya. Selain itu kita bisa membuat rekayasa rekayasa untuk menyiapkan masa depan kader PMII yang lebih baik.

Dengan data itu kita juga bisa menyiapkan kader-kader agama nantinya yang tidak hanya paham dan tahu tentang agama. Di tengah krisis toleransi dan merebaknya kaum fundamentalis, kader PMII dari cluster agama bisa memberikan warna yang berbeda. Kader PMII dari cluster agama ketika saatnya nanti menjadi tokoh agama setidaknya menjadi agamawan yang berbudaya. Maksutnya adalah tokoh agama yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan dan mampu mempelopori sebuah peradaban. Tidak mudah untuk menyalahkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam Ahlusunnah wal Jamaah.

Membumikan Aswaja di kampus umum

Melihat tantangan kader dari salah satu pandangan kacamata geopolitik global di atas adalah ideo scape. Hal ini tentunya sangat berpengsruh pada generasi milenial bangsa Imdonesia. Lebih Indonesia sedang mengalami bonus demografi yang terus memuncak. Jangan sampai bonus demografi ini menjadi bencana demografi yang salah satu  penyebabnya adalah paham radikal dan ektrimisme. Adanya globalisasi ideologi menyebabkan munculnya fenomena baru di kampus-kampus umum negeri. Seperti halnya banyak menjamur komunitas komunitas yang syarat menonjolkan keislamaan yang terjadi yang bermuara dari masjid Salman ITB.

Tidak berhenti di situ kemasan Islam fundamentalis ini semakin hari semakin berkembang biak saja,  layaknya sebuah perusahaan yang selalu memproduksi dan mengiklankan produk baru yang sesuai kebutuhan pasar. Mereka masuk berbagai lini organisasi intra kampus dan extra kampus. Mereka juga mampu menciptakan komunitas baru yang lebih menarik dan lebih Islami. Padahal secara esensi ataupun isi tidak begitu sedalam dari pada keilmuan-keilmuan yang kita dapatkan saat di pesantren ataupun majelis-majelis lainya. Akan tetapi mengapa kita belum mampu mengimplementasikan pengetahuan kita, harusnya kita lebih berani daripada mereka karena kita mampu.

Mafhum, sebagai kader PMII yang telah melewati jenjang kaderisasi baik formal, non formal dan informal tentunya harus lebih berani. Kita sudah dibekali banyak keilmuan baik yang sifatnya teori maupun praktik.  Seperti materi keislamaan ahlusunnah wal jamaah, secara teori dan keilmuan mungkin kita sudah banyak dapatkan. Selanjutkan kita refleksikan dan amalkan dalam kehidupan sehari hari baik dalam lingkup lecil ataupun lingkup luas seperti di kampus di mana kita belajar. Sudah saatnya kita membumikan nilai-nilai aswaja di kampus di mana kita belajar khususnya kampus umum negeri. Kita buat forum-forum kecil yang yang sifatnya terbuka untuk umum. Jangan sampai forum tersebut hanya untuk berkumpul dengan anggota kader PMII saja. Jadikan kader PMII sebagai agen agen untuk menyebarkan virus ahlussunnah wal jamaah di setiap lini kehidupan kampus. Materi kajianya pun dikemas lebih menarik dan tentunya ada standar khusus terkait materi materi yang akan disampaikan. Tidak usah terlalu ndakik ndakik karena pangsa pasar kita adalah mahasiswa umum yang latar belakangnya bukan dari cluster nahdliyin dan sejenisnya.

Potret dan Tantangan Kader Agama

Dari sekian banyak prosentase kader PMII dari cluster agama yang fokus dari keilmuan fakultatifnya hanya sebagian saja. Masih banyak yang mengembangkan karirnya masuk ke ranah politik praktis. Yang mana menjadikan dirinya sebagai tenaga tenaga ahli partai politik ataupun staf nya para para staf khusus. Padahal masih banyak tempat tempat lain yang bisa memposisikan dirinya untuk mengamalkan keilmuanya. Seperti halnya banyak alumni dari kader cluster agama yang antri menunggu nomor antrian untuk menjadi tenaga ahli DPR RI atauapun staf di Kementrian. Bahkan ada yang bangga hanya sebagai staf para staf dari stafnya staf.

Memang betul kita tidak bisa memaksakan kader cluster agama hanya bergerak dan mengamalkan keilmuanya di ranah agama saja. Begitupun sebaliknya melarang mereka untuk anti terhadap politik praktis, semua itu pilihan masing-masing kader. Akan tetapi sebagai kader PMII kita bisa menggunakan jalur jalur politik untuk sebuah narasi besar terkait pandangan  kita terkait narasi besar keislamaan ahlussunah wal jamaah.  Atau yang familiar disebut dengan politik kebangsaan. Dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk mengamalkan keilmuan tersebut.

Mafhum, tantangan kita semakin hari semakin menarik bagi yang mau ambil tantangan tersebut. Sangat disayangkan kalau kader dari cluster agama khusususnya hanya menunggu antrian menjadi tenaga ahli atau staf khusus. Sedangkan Islam fundamentalis atau garis kanan semakin hari semakin keras provokasinya untuk mengkibarkan bendera perang. Jangan sampai kader dari cluster agama tidak melakukan apa apa bahkan kalah sebelum berperang. Saatnya kita fokus kembali dengan kajian kelimuan dan tidak perlu takut nanti akan jadi apa. Kita harus rubah pola pikir kita bahwasanya kader yang keren bukan lagi yang yang menjadi tenaga ahli atau staf di partai politik. Akan tetapi mereka yang mampu menelorkan sebuah karya dalam bentuk tulisan atau yang lainya. Kalau ini terjadi sangat mungkin nantinya akan muncul banyak intelektual muda dari PMII. Karena pada dasarnya kita organisasi mahasiswa yang berisi kumpulan ilmuan dan intelektual muda.

Itulah beberapa potret dari kader dari cluster agama dan sekaligus tantanganya. Tidak Cuma itu masih banyak yang lainya tinggal kita mau memulai atau tetap lama-lama di depan layar android untuk menghabiskan waktu bermain game online. Kelihatanya memang sulit akan tetapi bukan berarti tidak bisa kita lakukan. Mari kita bersama-sama semarakan lagi gerakan gerakan literasi untuk menghasilkan sebuah karya tulis ataupun lainya. Dan penulis merasa utang rasa dan terima kasih betul masih ada sosok Dwi winarno yang masih mau menyapa kader PMII dan mengajak untuk berkaya bersama. Sekelas purnawirawan ketua kaderasasi nasional sebetulnya sangat mudah untuk menduduki posisi strategis di jajaran partai politik atau elit lainya. Atau bisa jadi menjadi direktur atau komisaris perusahaan ternama. Tapi sahabat Dwi Winarno tetap konsisten dalam mengawal kaderisasi di PMII walaupun tidak di struktural lagi. Apa mungkin belum waktunya atau mungkin belum ada kesempatan dan masih antri juga untuk terjun di politik praktis, saya kira penilaian saya keliru, heuheu.  Semoga tetap istiqomah dan selalu bisa dibanggakan bagi kader kader seluruh nusantara salam hangat dari Jombang bang Dwi Winarno.

Masa Pandemi,  27 April 2020

Share your thoughts