Kader PMII, Kehilangan Motivasi

Anggit Puji Widodo

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau yang biasa disingkat ( PMII ) merupakan sebuah organisasi yang berada dalam ruang lingkup mahasiswa. Di setiap kampus di penjuru negeri PMII selalu hadir untuk memberikan warna di dalam maupun di luar kehidupan Kampus. Notabennya PMII diisi oleh para mahasiswa yang ada di dalam kampus.

PMII lahir dari semangat juang para pemuda. Gejolak politik yang sempat terjadi di dalam negeri mengharuskan berdirinya sebuah organisasi yang mampu menaungi pikiran para pemuda yang aktif di kampus. Sejarah panjang di balik berdirinya PMII tidak lepas dari peran ulama dan pemuda dengan tujuan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Saat ini PMII sudah mulai melebarkan sayap, dengan kembali eksis di dalam kehidupan mahasiswa. Basis massa yang semakin banyak setiap tahunnya, menjadikan PMII sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang patut diperhitungkan. Tingkatan struktural pengurus yang tertata dari bawah sampai ke atas adalah salah satu bentuk karya nyata Jelajah pikir sahabat-sahabat PMII saat ini.

Namun terlepas dari itu, masih banyak hal yang sepertinya harus diperbaiki. Bukan karena PMII yang mulai Jelek, namun sikap dari setiap kader yang ada di dalam tubuh PMII. Kebiasaan buruk yang selalu tertanam dalam setiap diri warga PMII membuat marwah organisasi sedikit tercoreng di mata masyarakat atupun ranah pemerintahan. Zaman modern berkembang semakin masif, lantas tidak membuat peran kader begitu deras. Padahal jika kita bisa berpikir rasional adanya kemajuan teknologi harusnya dimanfaatkan untuk mulai mengembangkan kepribadian dan organisasi khususnya PMII.

Kader PMII hari ini sudah mulai kekurangan motivasi. Terkikis perlahan, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menanti PMII terpuruk. Apakah benar kader PMII kehilangan motivasi? Penulis bisa mengatakan iya, karena dalam hal ini yang dilihat adalah seberapa besar peran kader untuk organisasinya khususnya PMII. Berbagai macam aturan sudah dibuat, sistem berorganisasi yang baik juga sudah ada. Banyak buku yang bisa dibaca untuk sedikit menambah daya keilmuan. Namun lagi-lagi motivasi yang ada didalam setiap diri para kader harus kembali ditanamkan.

Beberapa cara mungkin sudah diterapkan, seperti kumpul bersama, antara pengurus dengan para alumni yang bertujuan untuk memotivasi memacu semangat dalam menjalani roda kepunguruan organisasi. Seperti halnya manusia biasa, segala motivasi yang diberikan hanya masuk ke telinga kanan dan keluar ke telinga kiri, padahal sejatinya seorang penggerak organisasi harus menjadikan motivasi sebagai alat untuk menciptakan peran dalam organisasi.

Tidak ada bekas yang tersisa. Inilah, mungkin yang menjadi masalah yang sering dialami Oleh PMII pada umumnya. Tidak mau menerima, tapi terlalu banyak menuntut. Bukan organisasinya, tapi sikap dari setiap kadernya. Sering menuntut untuk kemajuan dan pengembangan organisasi, namun bingung dengan cara pengembangannya.

Selama ini kader PMII hanya sering “Basah di mulut” tapi sama sekali tidak ada tindakan nyata untuk merubah. Terlalu mendewakan eksistensi dengan melupakan esensi. Hal inilah yang harusnya kita perbaiki mulai saat ini.

Malas? Sudah kewajiban setiap warga PMII untuk memajukan dan mengembangkan organisasi, jika memang malas, lantas buat apa semangat masuk PMII di awal ?

Oleh karena itu peran kader sangat dibutuhkan untuk pengembangan organisasi. Penyebab kehilangan motivasi berawal dari sikap kader itu sendiri dalam menyikapi gerak-gerik organisasi. Pada dasarnya organisasi yang baik adalah organisasi yang ditunjang dengan peran aktif kadernya di setiap lini. Tidak hanya mengandalkan satu dua orang, namun semua harus berperan aktif, sesuai dengan bidang dan kemampuan yang dimiliki.

1 Comment

Join the discussion and tell us your opinion.

Siti Makrifahreply
July 28, 2019 at 5:20 pm

Cukup memotivasi tulisannya mas Anggit puji Widodo, matursuwun. Salam dari PMII komisariat Universitas Lampung. Asal saya dari Jombang juga, kecamatan Mojoagung.

Leave a reply