
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Yusuf Hasyim menggelar acara Pra-Mapaba XI yang diisi seminar dengan menghadirkan dua narasumber, yaitu H. Ahmad Nuruddin, LC., kepala mahasantri Ma’had Aly banat dan Ema Rahmawati, S. Fil, M.A., koordinator Gusdurian Jombang. Kegiatan ini bertemakan ‘Meneguhkan Spirit Keorganisasian Mahasantri Ditengah Arus Modernisasi’, yang dilaksanakan di aula lantai 2 Ma’had Aly Hayim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada Jum’at (14/11/2025).
Acara ini dihadiri oleh anggota Rayon Yusuf Hasyim, mahasantri baru Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, serta beberapa tokoh ketua organisasi, antara lain Rafi A. Latif selaku ketua Komisariat Hasyim Asy’ari, Ahmad Rizki selaku ketua Cssmora Nasional, dan Naufal Afif selaku ketua Rayon PMII Yusuf Hasyim.
Dalam sambutannya, Naufal Afif menegaskan acara ini selain memperkenalkan PMII kepada mahasiswa baru, acara ini juga bertujuan untuk menjawab atas keraguan mahasiswa terhadap organisasi di era modernisasi.
“kesempatan kali ini mengangkat tema, ‘Meneguhkan Spirit Keorganisasian Mahasantri Ditengah Arus Modernisasi’. Tema ini diangkat karena melihat fenomenasi mahasiswa yang mulai enggan mengikuti organisasi, bahkan bisa dibilang degradasi organisasi”, ujarnya.
Sesi inti diisi dengan penyampaian materi oleh kedua narasumber. Materi pertama disampaikan oleh H. Ahamad Nuruddin LC.
Pria yang kerap disapa dengan panggilan ‘Gus Rudi’ ini, menyampaikan tentang pentingnya seorang pemimpin yang memimpin berdasarkan ilmu bukan atas dasar pengalaman.
“Pemimpin haruslah mengilmu dirinya sendiri, agar saat memimpin kaumnya tidak hanya mengandalkan pengalamannya dulu saat ia dipimpin. Sebab itu akan hanya mengulang trauma dan merawat keburukan pendahulunya”, ujar Gus Rudi.

Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Ema Rahmawati, S. Fil, M.A., atau yang kerap disapa Ning Ema. Ning Ema dalam materinya menegaskan tentang keterlibatan aktif perempuan dalam berorganisasi yang cenderung sering menerima stigmatisasi, marginalisasi, serta subordinasi.
“Setiap manusia memiliki martabat yang setara di mata Tuhan, yang membedakannya hanyalah ketaqwaan. Namun, perempuan kerapkali mendapatkan stigmatisasi berupa takut mengorbankan standar organisasi bilamana perempuan menjadi ketua (pemimpin). Padahal hadirnya perempuan menambah kandidat berkualitas yang memperkuat proses seleksi, bukan menurunkan standar”, ujar Ning Ema.
Di penghujung acara diisi dengan Quastion & Answer antara peserta dan pemateri. Dimana hal ini menunjukan keaktifan peserta dalam mengikuti acara, dan adanya keinginan untuk mengetahui cara berproses didalam sebuah organisasi.
Pewarta: Naufal Afif (Ketua Rayon PMII Yusuf Hasyim “Tebuireng”)